Komisi VII DPR RI meminta Bali diutamakan dalam penerapan Waste to Energy sebagai solusi tumpukan sampah yang kian tinggi.
Pulau Bali selama ini dikenal sebagai ikon pariwisata Indonesia yang mendunia. Keindahan alam, budaya yang kental, serta keramahan masyarakatnya menjadi daya tarik utama bagi jutaan wisatawan setiap tahun. Namun, di balik pesona tersebut, Bali menghadapi persoalan serius yang terus membesar, yakni tumpukan sampah yang semakin tinggi.
Dibawah ini akan membahas secara detail dan lengkap hanya di KDMP Rubaya.
Masalah Sampah Bali Kian Mengkhawatirkan
Persoalan sampah di Bali bukan lagi isu lokal, melainkan telah menjadi perhatian nasional. Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, hotel, restoran, dan kawasan wisata. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA dengan sistem pengelolaan yang terbatas.
Kondisi ini menyebabkan beberapa TPA di Bali mengalami kelebihan kapasitas. Tumpukan sampah yang menggunung menimbulkan dampak lingkungan serius, mulai dari pencemaran air tanah, bau tidak sedap, hingga risiko kebakaran. Situasi ini juga berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat dan wisatawan.
Komisi VII DPR RI menilai bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk mengatasi persoalan ini. Dibutuhkan solusi inovatif dan berkelanjutan agar Bali dapat keluar dari krisis sampah yang terus berulang setiap tahun.
Dorongan Komisi VII DPR RI Soal Waste to Energy
Sebagai komisi yang membidangi energi, riset, dan lingkungan hidup, Komisi VII DPR RI mendorong pemanfaatan teknologi Waste to Energy (WtE) sebagai solusi jangka panjang. Teknologi ini memungkinkan sampah diolah menjadi energi listrik atau panas melalui proses tertentu.
Menurut Komisi VII, Bali memiliki urgensi tinggi untuk menjadi prioritas penerapan WtE. Selain volume sampah yang besar, kebutuhan energi di Bali juga terus meningkat seiring pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. WtE dinilai mampu menjawab dua tantangan sekaligus: pengelolaan sampah dan penyediaan energi.
Dorongan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam transisi menuju energi bersih dan pengurangan emisi karbon. Dengan WtE, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga: Jaksa Tanya Alasan Balikin Rp 5,1 M di Kasus Chromebook, Saksi Ngaku Takut
Waste to Energy Sebagai Solusi Lingkungan
Teknologi Waste to Energy menawarkan pendekatan yang lebih modern dalam pengelolaan sampah. Melalui proses pembakaran terkendali, gasifikasi, atau metode lainnya, sampah dapat diubah menjadi energi listrik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Selain mengurangi volume sampah secara signifikan, WtE juga membantu menekan emisi gas rumah kaca yang biasanya dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA. Hal ini sangat penting bagi Bali yang ingin menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Komisi VII DPR RI menekankan bahwa penerapan WtE harus disertai dengan standar lingkungan yang ketat. Pengawasan terhadap emisi, pengelolaan residu, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan masalah baru.
Dampak Positif Bagi Pariwisata dan Masyarakat
Keberhasilan pengelolaan sampah melalui Waste to Energy akan membawa dampak besar bagi sektor pariwisata Bali. Lingkungan yang bersih dan bebas dari tumpukan sampah akan meningkatkan kenyamanan wisatawan dan memperkuat citra Bali sebagai destinasi kelas dunia.
Bagi masyarakat lokal, WtE juga membuka peluang ekonomi baru. Mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan akses energi, hingga peluang investasi di sektor energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali secara berkelanjutan.
Komisi VII DPR RI melihat bahwa manfaat sosial dan ekonomi ini menjadi alasan kuat mengapa Bali perlu diutamakan dalam proyek Waste to Energy. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi ini dapat menjadi solusi yang inklusif dan berjangka panjang.
Tantangan Implementasi dan Harapan ke Depan
Meski menjanjikan, implementasi Waste to Energy di Bali tidak lepas dari berbagai tantangan. Mulai dari kebutuhan investasi besar, kesiapan infrastruktur, hingga penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru. Semua aspek ini perlu direncanakan secara matang.
Komisi VII DPR RI menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Dukungan regulasi, insentif investasi, serta edukasi publik menjadi faktor penentu keberhasilan program WtE di Bali.
Ke depan, Komisi VII berharap Bali dapat menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi. Jika berhasil, model Waste to Energy di Bali dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan lingkungan Indonesia.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detikNews
- Gambar Kedua dari Berita7