Rano Karno jelaskan alasan tiang monorel di Senayan masih berdiri dan belum dibongkar, terkait rencana pengembangan kawasan.
Rano Karno memberikan penjelasan terkait tiang monorel yang masih berdiri di kawasan Senayan. Ia mengungkap alasan teknis dan perencanaan di balik penundaan pembongkaran, yang menjadi bagian dari rencana pengembangan infrastruktur dan tata ruang di wilayah tersebut.
Penjelasan KDMP Rubaya penting untuk memahami langkah pemerintah dalam menata kawasan perkotaan tanpa mengganggu kegiatan masyarakat.
Rano Karno Ungkap Alasan Tiang Monorel Senayan Belum Dibongkar
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjelaskan alasan tiang monorel yang mangkrak di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, hingga kini belum dibongkar. Menurut Rano, tiang-tiang tersebut berada di atas lahan yang menjadi kewenangan Sekretariat Negara (Setneg).
Sehingga rencana pembongkaran atau pemanfaatannya, termasuk sebagai media reklame, masih dalam tahap pembahasan. Beberapa tiang bisa dimanfaatkan untuk reklame, tapi tidak semua, ujar Rano saat ditemui di Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Ia menambahkan bahwa persoalan tiang monorel di Senayan sebenarnya sudah lama menjadi perhatian publik, bahkan ketika ia masih menjabat sebagai anggota DPR.
Kondisi Tiang Dan Dampaknya
Tercatat ada sekitar 13 tiang monorel di Senayan yang dianggap mengganggu pemandangan dan akses di sekitar kompleks parlemen. Rano menyebut, tiang-tiang tersebut sebaiknya segera dibongkar agar tidak mengganggu estetika dan aktivitas di kawasan vital tersebut.
Pintu belakang DPR contohnya, tiang-tiang itu mengganggu. Itu yang sebaiknya bisa ditebang, kata Rano. Pernyataan ini menegaskan urgensi penataan ulang kawasan Senayan sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata ruang ibu kota.
Baca Juga: Mantan Kades Mampuak I Diduga Korupsi Dana Desa Rp496 Juta, Kini Ditahan
Pemanfaatan Tiang Monorel Dan Penataan Kawasan
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan rencana pemanfaatan sebagian tiang monorel di Senayan sebagai media reklame, termasuk pemasangan layar videotron. Wacana ini muncul saat Pramono meninjau pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1/2026).
Beberapa tiang akan disisakan untuk videotron dan reklame. Harus dimanfaatkan sebaik mungkin, jelas Pramono.
Ia menegaskan, kawasan Senayan akan dibenahi setelah pembongkaran di Rasuna Said selesai, sebagai bagian dari penataan aset kota agar memiliki fungsi dan estetika yang optimal.
Anggaran, Proses Pembongkaran, Dan Target Penyelesaian
Dalam pembongkaran di Jalan HR Rasuna Said, Pemprov DKI memangkas 109 tiang monorel dari Halte Setiabudi hingga Grand Melia Hotel. Pramono menegaskan, biaya pemotongan tiang hanya sebesar Rp 254 juta, sementara anggaran Rp 102 miliar dialokasikan untuk penataan kawasan secara keseluruhan, termasuk jalan, saluran air, trotoar, penerangan, dan taman.
Pembongkaran dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan arus lalu lintas. Pemerintah menargetkan penataan kawasan Rasuna Said rampung pada September 2026.
Langkah ini sekaligus menjadi persiapan untuk penertiban tiang monorel di Senayan, dengan harapan memperbaiki estetika kota sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah. KDMP Rubaya serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari megapolitan.kompas.com
- Gambar Kedua dari tempo.co